0

Cerita Inspirasi Seorang Teman dari Diah Prabhandhari

Posted by diah.prabhandhari10 on 15 September 2010 in Academic |

Ini adalah sebuah cerita pengalaman dari salah seorang teman yang cukup menginspirasi saya. Dia adalah Alexky Ridwansyah. Saya biasa memanggilnya Alex. Sekarang dia tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Iya, dia adalah mahasiswa biasa seperti saya.Tetapi ada satu hal yang membuat pandangan saya berbeda mengenai Alex dibanding orang-orang yang sebaya dengan dia.
Dengan usia yang masih terbilang muda, Alex membiayai segala kebutuhannya dengan hasil usahanya sendiri. Dia bekerja sebagai seorang distributor multilevel marketing yang dianggap sebagian besar orang adalah bisnis yang tidak “nyata”. Alex memulai karirnya ini sejak kelas 2 SMA. Dia sangat termotivasi untuk mengikuti bisnis ini ketika dia mengetahui bahwa ibunya mengidap penyakit kanker. Sebagai anak pertama dari keluarga yang tergolong biasa, dia merasa mempunyai tanggung jawab yang besar kepada keluarganya.
Perjalanan dia saat memulai bisnis ini tidaklah mudah. Sangat banyak rintangan yang harus dihadapi Alex dalam menjalaninya. Dia menerima banyak cemoohan dan ejekan. Namun, semua itu tidak membuat dia jatuh dan bahkan membuatnya makin semangat dan fokus terhadap tujuan awalnya, yaitu membahagiakan orang tuanya.
Karena usahanya itu, sekarang dia sudah bisa membiayai kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung kepada orang tuanya lagi. Bagi orang tuanya, itu sudah lebih dari cukup. tapi Alex tidak puas hanya sampai disitu. Dia tetap berjuang keras untuk membuat kehidupan keluarganya menjadi lebih baik untuk kedepannya.
Sifat Alex yang pantang menyerah dan tidak pernah putus asa adalah hal yang dapat menginspirasi saya

Diah Prabhandhari

Laskar 16

F44100041

Tags: ,

0

Cerita Inspirasi Pribadi dari Diah Prabhandhari

Posted by diah.prabhandhari10 on 15 September 2010 in Academic |

Cinta pada negara merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak cinta yang jarang sekali ditemukan. Jika sederet remaja Indonesia diminta menginterpretasikan kalimat itu, mungkin tidak semuanya bisa menjawab. Akan tetapi aku dapat memastikan bahwa aku tidak termasuk dalam deretan itu. Aku adalah satu dari sedikit remaja yang cinta pada negeri ini.

Bagiku, mencintai Indonesia bukan hanya sebatas memberi hormat saat bendera merah putih sedang dikibarkan. Bukan hanya mengikuti upacara bendera setiap senin di sekolah. Bahkan tidak sekedar ikut memeriahkan hari kemerdekaan RI melalui berbagai perlombaan. Mencintai Indonesia lebih dari itu semua. Mencintai Indonesia berarti mau mengorbankan diri untuk kepentingan negara. Tidak perlu yang terlalu naïf, kalau kita tidak sanggup berperang seperti halnya para pahlawan perjuangan, setidaknya kita bisa memerangi kebodohan untuk bisa membangun negeri ini. Negeri yang kita cintai ini.

Mencintai Indonesia berarti juga memperlakukannya dengan baik. Misalnya mulai dari memperlakukan bendera merah putih sebagaimana mestinya. Kalau kita tidak bisa melakukan hal itu, bagaimana mungkin kita bisa memperlakukan negara dengan baik. Memang, hal sebesar itu tidak bisa hanya diukur melalui perlakuan terhadap bendera, namun menurut pengalamanku, ketika aku belajar untuk memperlakukan bendera merah putih dengan baik, saat itu pula aku belajar untuk memperlakukan negara dengan baik.

Menjadi anggota pasukan pengibar bendera juga merupakan cara untuk belajar mencintai negara. Selama tiga tahun aku mengikuti organisasi ini, banyak hal yang aku dapat. Misalnya, kemampuan baris-berbaris, kedisiplinan, kemampuan melaksanakan upacara, pengetahuan mengenai kebenderaan hingga cara memperlakukan bendera merah putih dengan baik. Semua itu membuatku semakin mencintai negeri ini.

Harus kuakui bahwa proses menjalani semua itu memang tidak mudah, banyak suka dan duka yang harus kulewati. Untungnya aku tidak pernah merasa sendirian. Ada teman-teman seperjuanganku yang selalu bisa menjadi sandaranku saat aku merasa sulit dan bisa menjadi tempat untukku meluapkan kebahagiaanku. Mereka bukan hanya teman, tetapi mereka adalah keluarga bagiku. Keluarga yang tidak akan bisa aku dapatkan di organisasi lain. Dua puluh remaja yang sama-sama belajar untuk mencintai negara dan mencoba membawa perubahan bagi bangsa ini.

Merekalah yang menjadi penyemangat bagiku untuk bertahan di organisasi itu, karena seperti yang sudah aku katakan, untuk bisa mencintai negara tidaklah mudah, tetapi mereka mampu membuat semua itu menjadi mudah bagiku. Dan kini, tidak perlu diragukan lagi betapa aku mencintai negeri ini, negeri kita tercinta, Indonesia.

Diah Prabhandhari

Laskar 16

F44100041

Tags: ,

Copyright © 2010-2016 diah.prabhandhari10's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.